Mens Folio

Switch to desktop

Masa Depan Ada di Musik

Baru mau upload video Harlem Shake hari ini?

Zaman sekarang, kalau belum menggunakan smartphone suka dianggap seperti manusia goa. Apabila kita tidak nongkrong di café sambil main iPad dan upload foto di Instagram dianggap tidak punya teman. Dunia digital sudah melakukan evolusi gaya hidup, tak terkecuali di ranah industri musik. Belakangan mulai banyak band bermunculan yang bermusik dengan menggunakan aplikasi musik.

Menurut gitaris band Slank, Abdee Negara, pada saat ini memang belum ada bentuk sempurna dari evolusi musik digital. Distribusi lagu melalui iTunes, produksi musik dengan ProTools, pemasaran musik melalui media sosial media misalnya, semuanya masih mencari bentuk solid yang dapat dijadikan standar dalam industri musik modern. Perubahan dan cara-cara baru terus diciptakan sehingga bagi orang-orang yang tidak sanggup untuk mengikuti akan jauh tertinggal. 

Musik Indonesia akan maju bila empat pelaku utama bersinergi dengan baik: Musisi, pekerja industri, masyarakat dan pemerintah. Musisi tidak hanya bisa ikut tren karena akan selalu menjadi copycat. Bagaimana tidak? Dengan perkembangan teknologi yang cepat, sesuatu yang popular hari ini, besok sudah basi (Baru mau upload video Harlem Shake hari ini?) Musisi harus sadar kualitas lagunya menjadi dasar bermusik. Mulai dari pemilihan genre, cara bermain alat musik, teknik bernyanyi, aransemen, kualitas rekaman, kostum, aksi panggung, hingga konten emosional lagu dapat tersampaikan dengan tepat.

Para pekerja industri musik yang masih kukuh dengan cara tradisional juga akan kewalahan. Lagi-lagi perkembangan teknologi membuat berbagai fasilitas yang tadinya hanya dapat dilakukan label rekaman, sekarang dapat dilakukan sendiri. Untuk rekaman, dapat menggunakan ProTools, untuk marketing dapat menggunakan social media, untuk menjual merchandise dapat menggunakan Top Spin, hingga untuk management dengan Reverb Nation.

Dari sisi masyarakat, kesadaran masyarakat kita yang cukup rendah membuat berbagai aturan yang ada tidak berjalan. Edukasi mengenai Hak dan Kekayaan Intelektual masih sangat rendah sehingga tidak ada apresiasi untuk karya cipta. Sementara industri kreatif yang hanya menyumbang sekitar 7% dari kegiatan ekonomi nasional pada 2010 dapat menjadi demotivasi bagi pemerintah untuk meluangkan waktu menumpas pembajakan. Kontribusi kecil, birokrasi bertele-tele, ditambah banyak masyarakat yang “perlu makan”, untuk apa memikirkan musik? Inisiatif harusnya datang dari pemerintah. Dengan regulasi yang jelas, pelaksanaan sanksi yang serius, insentif bagi musisi, ditambah edukasi dan sosialisasi menyeluruh, industri ini dapat berkontributor besar untuk ekonomi nasional.

Masa depan Indonesia -salah satunya- ada di musik. Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, perbaikan dan pembentukan industri musik modern dapat dilakukan dengan lebih cepat. Semoga pada saat Indonesian wave melanda dunia, kita semua masih hidup.

Foto: Deri Jindhar, sxc

Last modified on
Rate this item
(0 votes)
More in this category: “Eksistensi” 27 Club »

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated.Basic HTML code is allowed.

© MensFolioID.com | All Rights Reserved.

Top Desktop version